Jumat, 22 Desember 2017

Terkenal di Langit Namun Tak Dikenal di Bumi

Nama beliau adalah Abu Amar bin Amir bin Jaz'i bin Malik Al Qorni Al Muradi Al Yamani. Beliau dilahirkan di Yaman saat peristiwa hijrahnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ke Madinah. Ia seorang tabiin yang hidup di zaman Rasulullah namun belum pernah bertemu dengan beliau.

Uwais Al Qarni  tidak memiliki saudara satupun, yang ia miliki hanyalah seorang ibu yang sudah tua renta, buta dan lemah. Bahkan Uwais al Qarni sendiri juga mendapat ujian yakni sebuah penyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Meskipun keadaan yang seperti itu beliau tetap tumbuh menjadi pemuda yang shalih dan sangat berbakti kepada ibunya. Sampai-sampai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengujinya dengan berbagai pujian di depan para sahabat.

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- menggambarkan tentang Uwais Al Qarni, beliau bersabda, "Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah mencintai di antara makhlukNya para sahabat yang tersembunyi (tidak terkenal) dan taat, rambut mereka kusut, wajah mereka penuh debu, dan perut mereka kosong kecuali dari harta yang halal.

Mereka adalah orang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa tidak akan diizinkan, apabila melamar wanita wanita kaya tidak akan dinikahkan, apabila tidak hadir tidak akan dicari-cari, apabila hadir tidak akan dipanggil, apabila mereka muncul maka kemunculannya itu tidak akan membuat senang, apabila sakit tidak dijenguk dan apabila meninggal dunia tidak disaksikan."

Para sahabat bertanya, "wahai Rasulullah, bagaimana hubungan kami dengan salah seorang dari mereka?"

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-menjawab, "Dia adalah Uwais Al Qarni."

Mereka bertanya lagi, "Siapakah Uwais Al Qarni?"

Rasulullah bersabda, "Dia adalah seorang laki laki yang bermata biru, berambut pirang, dadanya bidang, perawakannya sedang, dan kulitnya sawo matang. Dia senantiasa menundukkan pandangannya, menaruh dagunya di tempat sujud, meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya sambil membaca Al Quran lalu menangisi dirinya sendiri.

Dia mengenakan pakaian dan mantel dari kain wol, tidak dikenal di kalangan penduduk bumi, namun sangat terkenal di kalangan penghuni langit. Apabila dia bersumpah dengan nama Allah maka dia pasti melaksanakannya dengan benar. Di bawah bahu sebelah kirinya ada bintik putih.

Pada hari kiamat kelak akan dikatakan kepada hamba hamba Allah, 'Masuklah kalian ke dalam surga.' Namun dikatakan kepada Uwais, 'Berhentilah dan berikanlah syafaat.' Lalu dia meminta syafaat kepada Allah untuk orang orang yang jumlahnya sama dengan suku Rabiah dan Mudhar.
Wahai Umar, wahai Ali, jika kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah dia supaya memohonkan ampunan bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua." [Al Hilyah, Abu Nu'man (II/81-82)

Dari hadits rasulullah di atas menunjukkan bahwa beliau memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, sampai-sampai doanya selalu dikabulkan oleh Allah ta'ala. Lantas apa yang membuatnya menjadi seperti itu??

Ya, hal itu disebabkan karena Uwais Al Qarni sangat berbakti kepada orangtuanya terutama pada Ibunya. Salah satu kisahnya yang paling terkenal adalah saat menggendong ibunya dari Yaman ke Mekkah. Berikut ceritanya.

Dahulu Uwais hanya memiliki ibu yang sudah tua. Apapun permintaan dan keinginan sang ibu selalu ia turuti. Hanya satu permintaan ibunya yang kala itu sulit sekali ia turuti, yaitu pergi haji.

Zaman dulu jika harus pergi ke Makkah maka harus melewati gurun pasir yang tandus, panas dan membutuhkan kendaraan serta bekal yang banyak untuk menuju Makkah. Maka dari itu Uwais sangat kebingungan, di sisi lain ia adalah orang yang sangat miskin dan tidak mempunyai perbekalan serta kendaraan untuk menghajikan ibunya.

Namun Dia tetap ingin menuruti permintaan ibunya. Uwais terus berpikir dan mencari cara agar bisa menuruti permintaan ibunya tersebut. Akhirnya ia menemukan cara yang sangat nekat. Uwais membeli seekor lembu dan membuat kandang di bukit. Setiap hari Uwais menggendong lembu tersebut dari bawah sampai ke bukit, sehingga banyak yang mengira Uwais sudah gila.

Tapi, tahukah kalian untuk apa Uwais melakukan hal tersebut? Ternyata hal itu dilakukannya sebagai bentuk latihan agar kuat menggendong ibunya ke Makkah. Subhanaallah..

Delapan bulan berlalu, lembu itu semakin gemuk dan ototnya Uwais pun semakin kuat. Tibalah waktu musim haji, Uwais mendatangi ibunya dan menyanggupi permintaannya. Namun ibunya benar-benar tidak mengira kalau Uwais akan menggendongnya sampai Makkah. Baginya ini cara yang sangat nekat.

Akhirnya Uwais menggendong ibunya yang sudah lumpuh tersebut dari Yaman ke Makkah untuk melaksanakan haji. Subhanallah, perjalanan yang sulit ia tempuh demi baktinya pada sang ibu. Uwais berjalan dengan tegap dan kuat sampai ke Makkah bahkan ketika tawaf pun Uwais tetap menggendong ibunya. Sang ibu sangat terharu dan menangis karena telah melihat Ka'bah. Di hadapan Ka'bah Uwais al Qarni berdoa, "Ya Allah ampunilah semua dosa ibuku."

Ibunya pun bertanya, "Bagaimana dengan dosamu?"

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan mulia seorang Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah memberikan karuniaNya kepada Uwais, kesembuhan pada penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih pada tengkuknya (ada yang mengatakan pada telapak tangan). Hal itu sebagai tanda agar Uwais mudah dikenali sesuai sabda Nabi kepada Umar dan Ali, bahwa kelak mereka akan bertemu dengan pemuda yang mempunyai tanda bulat putih pada telapak tangannya, yaitu Uwais al Qarni.

Perginya Uwais ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.


Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan langkah kakinya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa orang yang telah mencarinya adalah seorang anak yang taat kepada ibunya, dia dijuluki sebagai penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Setelah beberapa tahun berlalu, apabila telah datang kepada Umar sekelompok dari Yaman, beliau selalu bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?" Umar benar-benar tidak pernah lupa akan sabda nabi shalallahu alaihi wassalam. Oleh karenanya Umar selalu mengkhususkan pertanyaan dengan menyebut namanya langsung kepada penduduk dari Yaman.

Hingga akhirnya Umar ditaqdirkan Allah untuk bertemu Uwais yang zuhud. Saat utusan dari Yaman datang kepadanya, dia kembali bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir?" Mereka menjawab, "ya." Lalu Umar pun berjalan mendatangi Uwais dan bertanya, "Apakah engkau Uwais bin Amir?"

Dia menjawab, "Ya."


Umar bertanya lagi, "Dari Bani Murad kemudian Bani Qaran?"

Uwais menjawab, "Ya."

Umar bertanya lagi, "Apakah engkau pernah terkena penyakit belang, lalu Allah menyembuhkannya kecuali yang tersisa hanya sebesar dirham?"

Uwais menjawab, "ya"

Umar bertanya lagi, "Apakah engkau memiliki Ibu?" 

Uwais menjawab, "ya."

Umar Bin Khattab pun berkata, "Aku mendengar Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- bersabda , 'Akan datang kepada Uwais bin Amir bersama utusan yang datang dari Yaman dari Bani Murad, dia memiliki penyakit belang lalu Allah menyembuhkannya kecuali yang tersisa hanya sebesar dirham, dia memiliki seorang ibu yang sangat dia taati dan dia perlakukan dengan baik.

Apabila dia bersumpah atas nama Allah maka dia akan melaksanakannya dengan benar, jika engkau mampu untuk meminta kepadanya agar dia memohonkan ampunan untukmu, maka lakukanlah.'

Dari hadits nabi di atas, maka Umar memohon agar Uwais mau mendoakan ampunan untuknya. Umar berkata, "Mohonkanlah ampunan untukku wahai Uwais."

Uwais menjawab, "Apakah pantas orang sepertiku memohonkan ampunan untuk orang sepertimu wahai Amirul Mukminin?"

Namun Umar terus mengulangi permohonannya. Maka Uwais pun memohonkan ampunan untuknya seraya berdoa, " Ya Allah ampunilah Umar Bin Khattab."

Kemudian Umar Bin Khattab kembali bertanya, "Kemana engkau akan pergi ?"
Uwais menjawab, "Aku akan pergi ke Kufah."

Umar berkata, "Bolehkah aku menuliskan surat untukmu kepada penguasa di sana?"

Uwais menjawab, "Aku lebih senang jika berada di antara orang-orang awam yang tidak terkenal di sana."

Lalu Umar melanjutkan perkataannya kepada Uwais, "Siapakah orang yang engkau tinggalkan di Yaman?"

Uwais menjawab, "Aku meninggalkan ibuku." Kemudian Umar terus mendesak lagi untuk memohonkan ampunan baginya,
Umar pun berkata kepada Uwais, "Sejak hari ini engkau adalah saudaraku maka janganlah engkau meninggalkan aku."

Pada saat itu Uwais melepaskan diri dari tangan Umar dan pergi ke Kufah untuk mencari rezeki serta mendekatkan diri kepada majelis para ulama dan orang-orang zuhud di negeri Irak.

Ketika Uwais hendak meninggalkan Umar bin Khattab untuk pergi ke Kufah, Umar bin Khattab berkata kepadanya, "Tetaplah di tempatmu, semoga Allah merahmatimu. Sampai aku masuk ke Makkah lalu memberimu tunjangan hidup dari harta pemberian pribadiku dan beberapa helai pakaian dari pakaian milikku."
Kemudian Umar menyakinkan lagi seraya berkata, "Tunggulah di sini wahai Uwais, tempat ini tempat perjanjian antara aku dan engkau."

Maka Uwais berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tidak ada tempat perjanjian antara aku dan engkau, aku tidak yakin engkau akan mengenali aku lagi setelah hari ini, apa yang dapat aku lakukan dengan tunjangan itu wahai Amirul Mukminin dan apa yang dapat aku lakukan dengan pakaian itu? Bukankah engkau melihat saat ini aku mengenakan pakaian dari mantel kain wol? Pada saat engkau bertemu aku lagi, bisa jadi aku telah merobeknya, bukankah engkau melihat kedua sandalku ini ditambal? Pada saat engkau bertemu aku lagi, bisa jadi keduanya telah usang.
Wahai Amirul Mukminin di antara aku dan engkau ada rintangan yang menghalangi dan tidak dapat dilampaui kecuali orang yang kurus dan memiliki sedikit harta, maka jadikanlah aku orang yang sedikit hartanya. Semoga Allah merahmatimu wahai Amirul Mukminin, engkau dan aku akan berpisah di tempat ini."

Lalu Umar pun pergi ke Mekkah seraya mengucapkan salam perpisahan kepada Uwais yang berlalu pergi sambil menggiring untanya, lalu dia memberikan unta itu kepada pemiliknya, dia meninggalkan penggembalaan dan setelah itu dia hanya menghadapkan dirinya untuk beribadah. Nah begitulah kisah Uwais al Qarni bersama Khalifah Umar bin Khattab radiyallahuanhu.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khattab yang merupakan masa dimana penaklukan Islam sedang berlangsung begitu dahsyat, kaum muslimin pergi untuk memerangi Negeri Azerbaijan dan mencoba untuk menaklukkannya, maka jatuhlah panji-panji kemusyrikan dan berjayalah panji-panji Islam di semua tempat.

Abdullah bin Salamah salah seorang pahlawan pada pertempuran Azerbaijan, dia bercerita tentang wafatnya Uwais Al Qarni. "Kami memerangi Azerbaijan pada masa pemerintahan sahabat Umar Bin Khattab dan pada saat itu Uwais Al Qarni ada bersama kami, setelah kami kembali dari pertempuran kami merasakan bahwa dia sakit maka kami pun membawanya dan mengobatinya semampu kami, namun dia tidak dapat bertahan dan meninggal dunia, lalu Kami pun berhenti dan ternyata di sana ada sebuah kuburan yang telah digali, air yang mengalir terus-menerus, kain kafan dan balsam. Maka kami pun memandikannya, mengkafaninya, menshalatkannya dan menguburkannya.
Lalu sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain, "Seandainya kita kembali lagi ke tempat itu maka kita pasti mengenali kuburannya." Kemudian kami kembali lagi ke sana, namun kami tidak menemukan kuburan atau bekas apapun.

Berita meninggalnya Tabiin Uwais al Qarni telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa Uwais al Qarni sebenarnya. Selama ini tidak ada yang mengetahuinya sehingga banyak penduduk Yaman yang tidak tahu keutamaannya. Selain itu hal ini juga disebabkan karena permintaan Uwais kepada Umar agar merahasiakan tentangnya.

Dan setelah meninggal para penduduk Yaman baru mendengar sabda Nabi mengenai Uwais yang terkenal di langit dan tidak di bumi.


Subhanallah, kisah Uwais sangat patut dijadikan pelajaran untuk kita semua. Ia memiliki amalan yang sangat mulia, berbakti pada ibunya sehingga banyak orang yang meminta doa kebaikan melalui perantaranya. Apalagi Nabi sudah menyampaikan jauh-jauh hari bahwa doa Uwais akan terkabulkan. Sungguh mengharukan

Sabtu, 04 Oktober 2014

Sajak Cinta Abadi



Jauh sebelum aku bersama kekasihku
Aku terlebih dahulu mengenalmu
Mengenalmu dari hati
Dan menyukaimu dengan sejuta rata kagum

Sosok dirimu yang indah
Bagai cahaya bintang yang menerangi kegelapan
Dirimu yang penuh kasih sayang dan mencintaiku dengan tulus
Membuatku luluh pada cintamu

Sejuta kata cinta dalam hatiku
Yang tak dapat ku untarkan dengan ucapan
Hanya hati yang dapat mengerti
Apa yang ada di dalam hatiku

Ku mencintaimu sepenuh hati
Namun maaf, cintamu dan cintaku takkan pernah bersatu
Mungkin suatu saat nanti kita kan bersama
Di tempat yang indah setelah aku menyusulmu



Oleh: Muhammad Andika Ramadhan

Sajak Alam




Kicauan burung terdengar merdu di pagi hari
Menandakan tibanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Bagaikan dunia hanya milikku

Kupejamkan mataku sejenak
Dan kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk, tenang, tentram kurasakan
Dan membuatku melayang dan mempersona

Wahai sang pencipta alam
Keagunganmu sulit ku pendam
Dari mulai ku terbangun hingga terlelap
Membaurkan pesona yang tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Dan tumbuhan yang menari-nari di sana
Begitu indah rasanya
Dan sungguh sangat menawan hati dan jiwa

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terkesima dan terpana
Namun kita harus menjaganya
Agar keindahan alam ini takkan pernah sirna


Oleh: Muhammad Andika Ramadhan

SIKAP ANTI YAHUDI DALAM ISLAM



          Terkadang kita sering terfokus pada ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat khusus, namun kita juga sering melupakan norma-norma dasar semangat Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Sikap “ANTI YAHUDI” selain bertentangan dengan semangat antartisme dalam Islam juga hanya akan mengundang sikap sebaliknya, seperti “ANTI ISLAM”. Dalam kasus yang ada di Palestina, sikap anti yahudi justru akan menguntungkan kaum Zionis untuk mengalihkan fokus dari masalah keadilan dan penegakan Hukum Internasional menjadi konflik agama.
            Sebuah tafsir yang ditulis oleh Muhammad As’ad yang merupakan seorang yahudi eropa yang masuk islam. Beliau yang hidup bertahun-tahun dengan suku pedalaman arab gurun, yang masih memelihara bahasa arab murni yang sangat dekat dengan bahasa Al-qur’an berhasil mengungkapkan makna asli dari kata-kata Al-Qur’an. Ketika membahas surat Al-Baqarah, disana menjelaskan bahwasanya Allah sedang memotret “kenakalan” Bani Israil sambil mengingatkan kita agar jangan melakukan hal yang sama.
        Salah satu sifat Bani Israil yang paling menonjol adalah kesombongan mereka sebagai keturunan para nabi. STATUS istimewa ini membuat mereka ringan melakukan dosa sambil mengatakan “Api neraka tak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa hari saja”. Tanpa kita sadari, sikap serupa tentu sering kita temui dalam diri kita. Ketika mucul sebuah pemikiran bahwa seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka. Walaupun kita berbuat dosa, kita akan masuk neraka sementara, dan pada akhirnya kita akan masuk surga juga. Terkadang kita juga sering menjadikan syafaat sebagai KARTU GARANSI dari Nabi Muhammad yang menjamin kita masuk surga.
            Sikap sok “umat pilihan Tuhan” dan supermasi suku yang cenderung rasis adalah sikap Bani Israil yang dikritik Allah dalam banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menerangkan bahwa supermasi seorang manusia terletak pada “Takwanya”, bukan pada identitas suku atau nasab. Sayangnya, kisah-kisah Bani Israil yang Allah paparkan pada ayat-ayat Al-qur’an kadang salah kita tangkap. Kita malah membenci Yahudi sebagai suku bangsa, tanpa sadari bahkan kita telah memperaktikan mental dan perilaku mereka.
            Lalu sebagai pemuda Islam yang memiliki akal, mental dan perilaku yang sehat, bagaimana sebaiknya kita menyikapi persoalan seperti ini. Haruskah kita membela dan menegakan sifat keras dan dendam, ataukah kita harus menyadari dan mengakui  bahwasanya Rasulullah tidak pernah mengajari kepada umatnya akan kekerasan dan sifat balas dendam. Marilah kita mulai berfikir!



Oleh : Muhammad Andika Ramadhan

Selasa, 30 September 2014

Hari Terakhir Bersamamu



            Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Tak seorangpun yang hidup kekal di dunia ini, pasti semuanya akan merasakan yang namanya kematian. Namun, jika seorang sahabat yang kita cintai lebih dulu meninggalkan kita, apakah yang harus kita perbuat pada waktu itu. Haruskah kita menyalahkan takdir Illahi?
            Pagi itu adalah jum'at pagi yang cerah yang telah menyinariku dan membuat semangat hidupku dan belajar di pondok ini lebih bergairah. Ketika semangat belajarku di pondok sedang menurun, aku selalu mengingat betapa susahnya kedua orang tuaku mencari nafkah untuk membiayai semua keperluanku di pondok. Namun entah mengapa, di pagi yang cerah ini aku merasa kurang semangat untuk memasuki kelas. Ku sempatkan diriku tuk shalat Duha dan berdo'a kepada Allah, "semoga pada hari ini kelas 1 PK dipercaya untuk bekerja".
            Waktu menunjukan pukul 06:00 A.M. Bergegas aku merapihkan buku dan mengenakan seragam sekolah. Tak lama kemudian pengumuman dari Informational Center pun terdengar. "Announcement, this announcement come from teacher councel. To the entire male students that the worker in this morning are, students from class one intensive A and students from class one intensive B...".
            Diriku bersorak-sorak tak karuan di kamar, layaknya orang gila yang serentak tiba-tiba bahagia. Lekas ku ganti baju seragam yang tadinya telah ku kenakan dengan kaos oblong dan celana trening, dan langsung meluncur ke lapangan atas untuk berkumpul.
            Ustadz Subakir mempercayai Mudabbir Heru Setiawan sebagai pembimbing kami dalam bekerja. Sebelum kami semua bekerja, mudabbir Heru mewajibkan kepada kami semua untuk niat dan berdo'a terlebih dahulu, agar apa yang kita kerjakan nanti dapat bermanfaat bagi orang lain dan diri kita masing-masing. Dan juga, agar pekerjaan kita semua berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir.
            Selesai kita berdo'a, dengan gagahnya mudabbir Heru berdiri dan memberi tau pekerjaan apa yang harus kami kerjakan. Ternyata kami ditugaskan untuk meratakan jalan yang ada persis di belakang kelas leter I dengan batu-batu merah.
            Pengarahan pun selesai, dengan semangat yang berkobar, kamipun lekas pergi ketempat lokasi dimana kami harus bekerja. Beberapa orang ada yan ditugaskan untuk mengambil gerobak, skop, cangkul, dan perlengkapan kerja yang lainnya. Kami bekerja dengan bergotong royong dan saling bahu-membahu. Dalam bekerja kami tidak terlalu serius, bahkan ada seorang sahabatku yang bernama Fikri Ahmad Nawawi yang masih sempat-sempatnya bercanda ketika bekerja. Itu semua semata hanya untuk memberi energi kepada kami dalam bekerja agar lebih semangat lagi. Dapat kuambil kesimpulan dari kegiatan ini, ternyata bila suatu pekerjaan yang rumit jika diselesaikan secara bersama-sama, akan terasa mudah dan cepat tuntas.
            Tiga jam telah berlalu, pekerjaan kami untuk meratakan jalan dengan batu-batu merahpun  telah tuntas. Kamipun berkumpul kembali dengan mudabbir Heru, dengan rasa lelah bercampur senang, kamipun mengucapkan Alhamdulillah karena pekerjaan kami dari awal hingga akhir berjalan dengan sangat lancar.
            Waktu menunjukan pukul 10:00 A.M. Waktu yang tepat untuk mandi lebih awal sebelum bel pulang dari kelas dan lekas kemasjid untuk melaksanakan kewajibanku sebagai umat muslim untuk shalat jum'at. Karena jika aku lebih memilih beristirahat terlebih dahulu di kamar, maka aku akan merasakan antrian yang sangat panjang untuk mandi sunnah sebelum shalat jum'at.
            Rasa lapar dan haus telah membajak perutku ini. Untungnya setiap hari jum'at siang, seluruh santri makan dengan lauk spesial. Kyai Helmy Abdul Mubin memberikan menu spesial kepada seluruh santri pada hari rabu siang dan jum'at siang. Pada rabu siang, seluruh santri makan dengan daging ayam, sedangkan pada jum'at siang seluruh santri makan dengan lauk telur ayam.
            Lebih terasa nikmat lagi jika siang ini aku makan bersama para sahabatku. Sangat terasa kebersamaan ketika makan dengan satu nampan bersama sahabat. Kami makan dengan sangat lahap hingga ada salah satu dari kami makan hingga berceceran. Untungnya pada siang itu tidak ada bagian kebersiha. Jikalau bagian kebersihan pada siang itu melihat kami makan dengan berceceran, entah hukuman apa yang akan kami peroleh.
            Makan siang pun selesai. Tak terasa jarum jam menunjukan pukul 14:50 P.M. Terdengar suara rington dari toa masjid, itu berarti pertanda semua santri harus bergegas pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat asar berjama'ah. Lekas aku lari ke kamar untuk meletakan nampan di lemari dan langsung pergi ke masjid. Aku tak pernah lupa untuk selalu membawa buku teks pidato 3 bahasa. Karena setiap hari jum'at ba'da asar dan setelah pembacaan ratib Al-Attas adalah kegiatan Muhadoroh dari bagian Ta'lim, atau bisa di bilang "kegiatan latihan berpidato".
            Pembacaan ratib Al-Attas selesai, sekarang adalah waktunya untuk kegiatan muhadoroh. MC dalam latihan berpidato pada sore itu dibawai oleh mudabbir Taufik. Sebelum di uji kemampuan para santri dalam berpidato di depan audiance, mudabbir Taufik memberitau  bagaimana cara-cara  berpidato di depan umum dengan baik dan benar.
            Seorang mudabbir dengan mimik wajah yang panik datang menghampiri mudabbir Taufik ketika dia sedang memberikan contoh kepada seluruh santri. Mudabbir tersebut membisikan sesuatu ke arah telinga mudabbir Taufik. Setelah mendengar bisikan dari mudabbir tersebut, mudabbir Taufik langsung terlihat gelisah layaknya seseorang yang baru menerima musibah yang tidak pernah diinginkan.
             Tak lama kemudian, mudabbir Taufik mengumumkan sesuatu, "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatu, innalillahi wainna ilaihi raaji'un, telah meninggal ke rahmatullah sahabat kita Fikri Ahmad Nawawi kelas 1 PK B....".
            Diriku langsung bergetar setelah mendengar pengumuman tadi. Langssung  aku dan anak-anak kelas 1 PK yang lainnya serempak keluar dari masjid dan berkumpul di depan kantor sekolah. Tak terasa akupun mulai meneteskan air mata karna tak kuat menahan sakit hati yang baru kudapati. Kucoba untuk mencari informasi bagaimana kejadiaan yang sangat tidak diinginkan seperti itu bisa terjadi. Dan pada akhirnya aku mendapatkan informasi dari saksi mata bahwasanya sahabatku Fikri Ahmad Nawawi meninggal karena kesetrum dan terjatuh dari tiang listrik ketika Fikri hendak memasang spanduk peringatan wisuda angkatan 13 CONFIANZ.
            Tak kuasa ku menahan air mata. Ya Allah, mengapa engkau begitu cepat memanggil sahabatku ya Allah. Aku merasa sangat kehilangan seseoran yang sangat berarti dalam hidup ini. Seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Aku tak sanggup menghadapi kenyataan hidup ini.
            Jasad almarhum Fikri tiba di pondok pukul 21:00 P.M. Aku, seluruh santri dan seluruh ustadz berkenan untuk menyolatkan jasad almarhum Fikri di  masjid utama Ummul Quro. Suasana sedih dan haru sangat menyelimuti kami pada malam itu. Ingin sekali aku mengantarkan jasad sahabatku ketempat persinggahan terakhirnya. Namun aku tak bisa, Kepala Sekolah Aliyah, Ust. Asep Saepulloh Umar hanya membolehkan ketua kelas dan wakil ketua kelas 1 PK B saja yang dapat mengantarkan jasad almarhum. Aku selaku sahabat hanya dapat menirimkan do'a dan bacaan yasin untuk almarhum Fikri.
            Sekarang tak ada lagi sosok Fikri Ahmad Nawawi dalam kehidupanku dipondok yang selalu menghibur dikala hati sedang sepi dan gundah. Selamat jalan sahabatku "Fikri Ahmad Nawawi". Semoga Allah menerima semua amal kebaikanmu. Dan semoga Allah mempertemukan kita kembali di akhirat nanti. Amin.

Oleh: Muhammad Andika Ramadhan