Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara saja. Tak
seorangpun yang hidup kekal di dunia ini, pasti semuanya akan merasakan yang
namanya kematian. Namun, jika seorang sahabat yang kita cintai lebih dulu
meninggalkan kita, apakah yang harus kita perbuat pada waktu itu. Haruskah kita
menyalahkan takdir Illahi?
Pagi itu
adalah jum'at pagi yang cerah yang telah menyinariku dan membuat semangat
hidupku dan belajar di pondok ini lebih bergairah. Ketika semangat belajarku di
pondok sedang menurun, aku selalu mengingat betapa susahnya kedua orang tuaku
mencari nafkah untuk membiayai semua keperluanku di pondok. Namun entah
mengapa, di pagi yang cerah ini aku merasa kurang semangat untuk memasuki
kelas. Ku sempatkan diriku tuk shalat Duha dan berdo'a kepada Allah,
"semoga pada hari ini kelas 1 PK dipercaya untuk bekerja".
Waktu
menunjukan pukul 06:00 A.M. Bergegas aku merapihkan buku dan mengenakan seragam
sekolah. Tak lama kemudian pengumuman dari Informational Center pun terdengar.
"Announcement, this announcement come from teacher councel. To the entire
male students that the worker in this morning are, students from class one
intensive A and students from class one intensive B...".
Diriku
bersorak-sorak tak karuan di kamar, layaknya orang gila yang serentak tiba-tiba
bahagia. Lekas ku ganti baju seragam yang tadinya telah ku kenakan dengan kaos
oblong dan celana trening, dan langsung meluncur ke lapangan atas untuk
berkumpul.
Ustadz
Subakir mempercayai Mudabbir Heru Setiawan sebagai pembimbing kami dalam bekerja.
Sebelum kami semua bekerja, mudabbir Heru mewajibkan kepada kami semua untuk
niat dan berdo'a terlebih dahulu, agar apa yang kita kerjakan nanti dapat
bermanfaat bagi orang lain dan diri kita masing-masing. Dan juga, agar
pekerjaan kita semua berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir.
Selesai
kita berdo'a, dengan gagahnya mudabbir Heru berdiri dan memberi tau pekerjaan
apa yang harus kami kerjakan. Ternyata kami ditugaskan untuk meratakan jalan
yang ada persis di belakang kelas leter I dengan batu-batu merah.
Pengarahan
pun selesai, dengan semangat yang berkobar, kamipun lekas pergi ketempat lokasi
dimana kami harus bekerja. Beberapa orang ada yan ditugaskan untuk mengambil
gerobak, skop, cangkul, dan perlengkapan kerja yang lainnya. Kami bekerja dengan
bergotong royong dan saling bahu-membahu. Dalam bekerja kami tidak terlalu
serius, bahkan ada seorang sahabatku yang bernama Fikri Ahmad Nawawi yang masih
sempat-sempatnya bercanda ketika bekerja. Itu semua semata hanya untuk memberi
energi kepada kami dalam bekerja agar lebih semangat lagi. Dapat kuambil
kesimpulan dari kegiatan ini, ternyata bila suatu pekerjaan yang rumit jika
diselesaikan secara bersama-sama, akan terasa mudah dan cepat tuntas.
Tiga jam
telah berlalu, pekerjaan kami untuk meratakan jalan dengan batu-batu
merahpun telah tuntas. Kamipun berkumpul
kembali dengan mudabbir Heru, dengan rasa lelah bercampur senang, kamipun
mengucapkan Alhamdulillah karena pekerjaan kami dari awal hingga akhir berjalan
dengan sangat lancar.
Waktu
menunjukan pukul 10:00 A.M. Waktu yang tepat untuk mandi lebih awal sebelum bel
pulang dari kelas dan lekas kemasjid untuk melaksanakan kewajibanku sebagai
umat muslim untuk shalat jum'at. Karena jika aku lebih memilih beristirahat
terlebih dahulu di kamar, maka aku akan merasakan antrian yang sangat panjang
untuk mandi sunnah sebelum shalat jum'at.
Rasa
lapar dan haus telah membajak perutku ini. Untungnya setiap hari jum'at siang,
seluruh santri makan dengan lauk spesial. Kyai Helmy Abdul Mubin memberikan menu
spesial kepada seluruh santri pada hari rabu siang dan jum'at siang. Pada rabu
siang, seluruh santri makan dengan daging ayam, sedangkan pada jum'at siang
seluruh santri makan dengan lauk telur ayam.
Lebih
terasa nikmat lagi jika siang ini aku makan bersama para sahabatku. Sangat
terasa kebersamaan ketika makan dengan satu nampan bersama sahabat. Kami makan
dengan sangat lahap hingga ada salah satu dari kami makan hingga berceceran.
Untungnya pada siang itu tidak ada bagian kebersiha. Jikalau bagian kebersihan
pada siang itu melihat kami makan dengan berceceran, entah hukuman apa yang
akan kami peroleh.
Makan
siang pun selesai. Tak terasa jarum jam menunjukan pukul 14:50 P.M. Terdengar
suara rington dari toa masjid, itu berarti pertanda semua santri harus bergegas
pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat asar berjama'ah. Lekas aku lari ke
kamar untuk meletakan nampan di lemari dan langsung pergi ke masjid. Aku tak
pernah lupa untuk selalu membawa buku teks pidato 3 bahasa. Karena setiap hari
jum'at ba'da asar dan setelah pembacaan ratib Al-Attas adalah kegiatan
Muhadoroh dari bagian Ta'lim, atau bisa di bilang "kegiatan latihan
berpidato".
Pembacaan
ratib Al-Attas selesai, sekarang adalah waktunya untuk kegiatan muhadoroh. MC
dalam latihan berpidato pada sore itu dibawai oleh mudabbir Taufik. Sebelum di
uji kemampuan para santri dalam berpidato di depan audiance, mudabbir Taufik
memberitau bagaimana cara-cara berpidato di depan umum dengan baik dan
benar.
Seorang
mudabbir dengan mimik wajah yang panik datang menghampiri mudabbir Taufik
ketika dia sedang memberikan contoh kepada seluruh santri. Mudabbir tersebut
membisikan sesuatu ke arah telinga mudabbir Taufik. Setelah mendengar bisikan
dari mudabbir tersebut, mudabbir Taufik langsung terlihat gelisah layaknya
seseorang yang baru menerima musibah yang tidak pernah diinginkan.
Tak lama kemudian, mudabbir Taufik mengumumkan
sesuatu, "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokaatu, innalillahi wainna
ilaihi raaji'un, telah meninggal ke rahmatullah sahabat kita Fikri Ahmad Nawawi
kelas 1 PK B....".
Diriku
langsung bergetar setelah mendengar pengumuman tadi. Langssung aku dan anak-anak kelas 1 PK yang lainnya
serempak keluar dari masjid dan berkumpul di depan kantor sekolah. Tak terasa
akupun mulai meneteskan air mata karna tak kuat menahan sakit hati yang baru
kudapati. Kucoba untuk mencari informasi bagaimana kejadiaan yang sangat tidak
diinginkan seperti itu bisa terjadi. Dan pada akhirnya aku mendapatkan
informasi dari saksi mata bahwasanya sahabatku Fikri Ahmad Nawawi meninggal
karena kesetrum dan terjatuh dari tiang listrik ketika Fikri hendak memasang
spanduk peringatan wisuda angkatan 13 CONFIANZ.
Tak
kuasa ku menahan air mata. Ya Allah, mengapa engkau begitu cepat memanggil
sahabatku ya Allah. Aku merasa sangat kehilangan seseoran yang sangat berarti
dalam hidup ini. Seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Aku tak sanggup
menghadapi kenyataan hidup ini.
Jasad
almarhum Fikri tiba di pondok pukul 21:00 P.M. Aku, seluruh santri dan seluruh
ustadz berkenan untuk menyolatkan jasad almarhum Fikri di masjid utama Ummul Quro. Suasana sedih dan
haru sangat menyelimuti kami pada malam itu. Ingin sekali aku mengantarkan
jasad sahabatku ketempat persinggahan terakhirnya. Namun aku tak bisa, Kepala
Sekolah Aliyah, Ust. Asep Saepulloh Umar hanya membolehkan ketua kelas dan
wakil ketua kelas 1 PK B saja yang dapat mengantarkan jasad almarhum. Aku
selaku sahabat hanya dapat menirimkan do'a dan bacaan yasin untuk almarhum
Fikri.
Sekarang
tak ada lagi sosok Fikri Ahmad Nawawi dalam kehidupanku dipondok yang selalu
menghibur dikala hati sedang sepi dan gundah. Selamat jalan sahabatku
"Fikri Ahmad Nawawi". Semoga Allah menerima semua amal kebaikanmu.
Dan semoga Allah mempertemukan kita kembali di akhirat nanti. Amin.
Oleh: Muhammad Andika Ramadhan