Terkadang kita sering terfokus pada
ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat khusus, namun kita juga sering melupakan norma-norma
dasar semangat Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Sikap “ANTI YAHUDI” selain bertentangan dengan
semangat antartisme dalam Islam juga hanya akan mengundang sikap sebaliknya,
seperti “ANTI ISLAM”. Dalam kasus
yang ada di Palestina, sikap anti yahudi justru akan menguntungkan kaum Zionis
untuk mengalihkan fokus dari masalah keadilan dan penegakan Hukum Internasional
menjadi konflik agama.
Sebuah
tafsir yang ditulis oleh Muhammad As’ad yang merupakan seorang yahudi eropa yang masuk islam.
Beliau yang hidup bertahun-tahun dengan suku pedalaman arab gurun, yang masih
memelihara bahasa arab murni yang sangat dekat dengan bahasa Al-qur’an berhasil mengungkapkan makna asli dari kata-kata Al-Qur’an. Ketika membahas
surat Al-Baqarah, disana menjelaskan bahwasanya Allah sedang memotret
“kenakalan” Bani Israil sambil mengingatkan kita agar jangan melakukan hal yang
sama.
Salah
satu sifat Bani Israil yang paling menonjol adalah kesombongan mereka sebagai
keturunan para nabi. STATUS istimewa ini membuat mereka ringan melakukan dosa
sambil mengatakan “Api neraka tak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa
hari saja”. Tanpa kita sadari, sikap serupa tentu sering kita temui dalam diri
kita. Ketika mucul sebuah pemikiran bahwa seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka. Walaupun kita berbuat dosa, kita akan masuk neraka sementara, dan pada
akhirnya kita akan masuk surga juga. Terkadang kita juga sering menjadikan syafaat
sebagai KARTU GARANSI dari Nabi Muhammad yang menjamin kita masuk surga.
Sikap
sok “umat pilihan Tuhan” dan supermasi suku yang cenderung rasis adalah sikap
Bani Israil yang dikritik Allah dalam banyak ayat-ayat Al-qur’an yang
menerangkan bahwa supermasi seorang manusia terletak pada “Takwanya”, bukan
pada identitas suku atau nasab. Sayangnya, kisah-kisah Bani Israil yang Allah
paparkan pada ayat-ayat Al-qur’an kadang salah kita tangkap. Kita malah
membenci Yahudi sebagai suku bangsa, tanpa sadari bahkan kita telah
memperaktikan mental dan perilaku mereka.
Lalu
sebagai pemuda Islam yang memiliki akal, mental dan perilaku yang sehat, bagaimana sebaiknya kita menyikapi persoalan seperti ini. Haruskah kita membela dan menegakan
sifat keras dan dendam, ataukah kita harus menyadari dan mengakui bahwasanya Rasulullah tidak pernah mengajari
kepada umatnya akan kekerasan dan sifat balas dendam. Marilah kita mulai
berfikir!
Oleh
: Muhammad Andika Ramadhan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar