Sabtu, 04 Oktober 2014

SIKAP ANTI YAHUDI DALAM ISLAM



          Terkadang kita sering terfokus pada ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat khusus, namun kita juga sering melupakan norma-norma dasar semangat Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Sikap “ANTI YAHUDI” selain bertentangan dengan semangat antartisme dalam Islam juga hanya akan mengundang sikap sebaliknya, seperti “ANTI ISLAM”. Dalam kasus yang ada di Palestina, sikap anti yahudi justru akan menguntungkan kaum Zionis untuk mengalihkan fokus dari masalah keadilan dan penegakan Hukum Internasional menjadi konflik agama.
            Sebuah tafsir yang ditulis oleh Muhammad As’ad yang merupakan seorang yahudi eropa yang masuk islam. Beliau yang hidup bertahun-tahun dengan suku pedalaman arab gurun, yang masih memelihara bahasa arab murni yang sangat dekat dengan bahasa Al-qur’an berhasil mengungkapkan makna asli dari kata-kata Al-Qur’an. Ketika membahas surat Al-Baqarah, disana menjelaskan bahwasanya Allah sedang memotret “kenakalan” Bani Israil sambil mengingatkan kita agar jangan melakukan hal yang sama.
        Salah satu sifat Bani Israil yang paling menonjol adalah kesombongan mereka sebagai keturunan para nabi. STATUS istimewa ini membuat mereka ringan melakukan dosa sambil mengatakan “Api neraka tak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa hari saja”. Tanpa kita sadari, sikap serupa tentu sering kita temui dalam diri kita. Ketika mucul sebuah pemikiran bahwa seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka. Walaupun kita berbuat dosa, kita akan masuk neraka sementara, dan pada akhirnya kita akan masuk surga juga. Terkadang kita juga sering menjadikan syafaat sebagai KARTU GARANSI dari Nabi Muhammad yang menjamin kita masuk surga.
            Sikap sok “umat pilihan Tuhan” dan supermasi suku yang cenderung rasis adalah sikap Bani Israil yang dikritik Allah dalam banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menerangkan bahwa supermasi seorang manusia terletak pada “Takwanya”, bukan pada identitas suku atau nasab. Sayangnya, kisah-kisah Bani Israil yang Allah paparkan pada ayat-ayat Al-qur’an kadang salah kita tangkap. Kita malah membenci Yahudi sebagai suku bangsa, tanpa sadari bahkan kita telah memperaktikan mental dan perilaku mereka.
            Lalu sebagai pemuda Islam yang memiliki akal, mental dan perilaku yang sehat, bagaimana sebaiknya kita menyikapi persoalan seperti ini. Haruskah kita membela dan menegakan sifat keras dan dendam, ataukah kita harus menyadari dan mengakui  bahwasanya Rasulullah tidak pernah mengajari kepada umatnya akan kekerasan dan sifat balas dendam. Marilah kita mulai berfikir!



Oleh : Muhammad Andika Ramadhan

Tidak ada komentar: