Sabtu, 04 Oktober 2014

Sajak Cinta Abadi



Jauh sebelum aku bersama kekasihku
Aku terlebih dahulu mengenalmu
Mengenalmu dari hati
Dan menyukaimu dengan sejuta rata kagum

Sosok dirimu yang indah
Bagai cahaya bintang yang menerangi kegelapan
Dirimu yang penuh kasih sayang dan mencintaiku dengan tulus
Membuatku luluh pada cintamu

Sejuta kata cinta dalam hatiku
Yang tak dapat ku untarkan dengan ucapan
Hanya hati yang dapat mengerti
Apa yang ada di dalam hatiku

Ku mencintaimu sepenuh hati
Namun maaf, cintamu dan cintaku takkan pernah bersatu
Mungkin suatu saat nanti kita kan bersama
Di tempat yang indah setelah aku menyusulmu



Oleh: Muhammad Andika Ramadhan

Sajak Alam




Kicauan burung terdengar merdu di pagi hari
Menandakan tibanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Bagaikan dunia hanya milikku

Kupejamkan mataku sejenak
Dan kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk, tenang, tentram kurasakan
Dan membuatku melayang dan mempersona

Wahai sang pencipta alam
Keagunganmu sulit ku pendam
Dari mulai ku terbangun hingga terlelap
Membaurkan pesona yang tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Dan tumbuhan yang menari-nari di sana
Begitu indah rasanya
Dan sungguh sangat menawan hati dan jiwa

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terkesima dan terpana
Namun kita harus menjaganya
Agar keindahan alam ini takkan pernah sirna


Oleh: Muhammad Andika Ramadhan

SIKAP ANTI YAHUDI DALAM ISLAM



          Terkadang kita sering terfokus pada ayat-ayat Al-Qur’an yang bersifat khusus, namun kita juga sering melupakan norma-norma dasar semangat Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan perdamaian. Sikap “ANTI YAHUDI” selain bertentangan dengan semangat antartisme dalam Islam juga hanya akan mengundang sikap sebaliknya, seperti “ANTI ISLAM”. Dalam kasus yang ada di Palestina, sikap anti yahudi justru akan menguntungkan kaum Zionis untuk mengalihkan fokus dari masalah keadilan dan penegakan Hukum Internasional menjadi konflik agama.
            Sebuah tafsir yang ditulis oleh Muhammad As’ad yang merupakan seorang yahudi eropa yang masuk islam. Beliau yang hidup bertahun-tahun dengan suku pedalaman arab gurun, yang masih memelihara bahasa arab murni yang sangat dekat dengan bahasa Al-qur’an berhasil mengungkapkan makna asli dari kata-kata Al-Qur’an. Ketika membahas surat Al-Baqarah, disana menjelaskan bahwasanya Allah sedang memotret “kenakalan” Bani Israil sambil mengingatkan kita agar jangan melakukan hal yang sama.
        Salah satu sifat Bani Israil yang paling menonjol adalah kesombongan mereka sebagai keturunan para nabi. STATUS istimewa ini membuat mereka ringan melakukan dosa sambil mengatakan “Api neraka tak akan menyentuh kami, kecuali hanya beberapa hari saja”. Tanpa kita sadari, sikap serupa tentu sering kita temui dalam diri kita. Ketika mucul sebuah pemikiran bahwa seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka. Walaupun kita berbuat dosa, kita akan masuk neraka sementara, dan pada akhirnya kita akan masuk surga juga. Terkadang kita juga sering menjadikan syafaat sebagai KARTU GARANSI dari Nabi Muhammad yang menjamin kita masuk surga.
            Sikap sok “umat pilihan Tuhan” dan supermasi suku yang cenderung rasis adalah sikap Bani Israil yang dikritik Allah dalam banyak ayat-ayat Al-qur’an yang menerangkan bahwa supermasi seorang manusia terletak pada “Takwanya”, bukan pada identitas suku atau nasab. Sayangnya, kisah-kisah Bani Israil yang Allah paparkan pada ayat-ayat Al-qur’an kadang salah kita tangkap. Kita malah membenci Yahudi sebagai suku bangsa, tanpa sadari bahkan kita telah memperaktikan mental dan perilaku mereka.
            Lalu sebagai pemuda Islam yang memiliki akal, mental dan perilaku yang sehat, bagaimana sebaiknya kita menyikapi persoalan seperti ini. Haruskah kita membela dan menegakan sifat keras dan dendam, ataukah kita harus menyadari dan mengakui  bahwasanya Rasulullah tidak pernah mengajari kepada umatnya akan kekerasan dan sifat balas dendam. Marilah kita mulai berfikir!



Oleh : Muhammad Andika Ramadhan